gubahan saya

cerita seru

Sabtu, 14 Juli 2012

Ayahku menginginkanku







Sebut saja aku Mar, wanita berusia 18 tahun, sudah menikah dan sedang hamil 8 bulan. Aku berani menceritakan kisahku setelah Sam (60), ayah kandungku diamankan polisi lima bulan lalu, setelah sempat digebuki Mas Hamdi (25), suamiku.

Sebagai wanita yang tumbuh ditengah keluarga miskin dilingkungan pesisir, aku terbiasa hidup dan kerja keras membantu orangtuaku yang nelayan. Kampung kami di pulau L (Edited ***) agak jauh dari kota dan seperti terisolir membuat tatanan kehidupan bermasyarakat disana kurang terbuka, aku pun tumbuh menjadi gadis kurang pergaulan.

Sejak berusia 11 tahun, ayah dan ibuku bercerai. Ibu kawin lagi dengan lelaki idamannya membawa Fery, adikku. Mereka pun tinggal di kota, dirumah barunya. Sejak itu pula aku hidup bersama ayahku dirumah kami dikampung pesisir itu, karena Anto dan Santi, kedua kakakku sudah merantau kepulau seberang.

Kehidupanku bersama ayah berjalan wajar. Untuk makan sehari-hari, ayah masih sanggup mencari nafkah sebagai nelayan, sedangkan aku turut membantu bibi berjualan dipasar. Hingga aku menginjak usia 17 tahun, dan tumbuh menjadi gadis yang kata masyarakat kampungku aku lumayan cantik. Diusia itu aku disunting Mas Hamdi, anak lelaki bibiku.

"Kamu sudah dewasa nak, setelah menikah nanti jadilah istri yang taat kepada suami. Ayah harap kamu tidak seperti ibumu yang tergiur harta kekayaan lelaki lain sehingga kamu menderita," kata ayah setelah menerima pinangan bibi, orang tua Hamdi.

Pesta penikahan yang cukup mewah untuk ukuran kami tak membuat aku bergembira karena pikiranku tertuju iba pada ayahku yang nantinya akan sebatangkara kutinggalkan. Tapi aku pun sangat mencintai Mas Hamdi, suamiku.

Dimalam pertama kami, aku benar-benar bahagia bersama Mas Hamdi. Malam itulah kuserahkan semua yang kumiliki padanya, sangat berkesan bagiku.

"Aku sayang kamu Mar.." Mas Hamdi mengecup keningku saat kami dipembaringan, usai pesta kawin kami malam itu.
"Aku juga Mas.." jawabanku tulus dan kami pun berpelukan erat.

Kecupan Mas Hamdi dikeningku terus turun ke pipi, hidung, dan selanjutnya Mas Hamdi mengecup bibirku dan mengulumnya dalam. Tangannya mulai melucuti kebaya putih yang kukenakan, menyibak bra yang kupakai, lalu menyentuh puting susuku, meremas dan mencubit kecil susuku.

"Aouhh Mass, geli Mas," terus terang baru sekali itu aku dijamah lelaki, perasaanku bukan main takut bercampur enak.

Mas Hamdi tak peduli, bagaikan singa lapar ia kemudian melucuti seluruh kain yang melilit tubuh bawahku dan juga melepaskan seluruh pakaiannya.

"Tenang ya sayang, sakit sedikit kok.. nanti juga enak," kata itu keluar dari bibir Mas Hamdi saat menindih tubuhku.
"Aahh mass, sakit sekali Mas," aku agak menjerit saat benda tumpul milik Mas Hamdi mengoyak vaginaku.

Malam pertama itu Mas Hamdi menyetubuhiku dengan beringas, dan tak memberiku kesempatan untuk mencapai klimaks yang nikmat. Tapi aku pikir mungkin itulah gaya seks pria pesisir yang terbiasa hidup keras sebagai nelayan.

Meski aku bahagia hidup bersama suamiku, namun rasa BHakti pada ayah tak pernah kusingkirkan. Walau kami hidup beda rumah, dengan jarak 200 meter. Tetapi seringkali kubawakan ayah makanan dan minuman, biasanya tiga hari sekali. Apalagi Mas Hamdi pun menyuruhku untuk tetap memperhatikan ayahku yang mulai tua, dan jarang melaut lagi. Tapi selama itu segela sesuatunya masih berjalan lancar.

Hingga suatu siang, empat bulan setelah aku menikah, aku membawakan makanan dan minuman kerumah ayah yang letaknya agak terpisah dari rumah lainnya dikampung kami. Saat itu aku sudah hamil dua bulan.

"Ini yah, saya bawakan sayur dan ikan. Ayah nggak usah masak lagi untuk nanti malam tinggal dihangatkan saja," kataku setiba dirumah ayah.
"Duh.. makasih ya sayang. Kamu ini benar-benar anak berBHakti," kata ayah seraya menghampiri dan mengecup keningku.

Kupikir kecupan itu pertanda sayang seperti yang selama ini diperbuat padaku, kubiarkan saja itu dan kemudian aku ke dapur untuk memindahkan makanan dari rantang yang kubawa kepiring didapur. Ayah rupanya membuntutiku dan ikut kedapur, lalu disaat tanganku sibuk menyusun piring dimeja makan, ayah memelukku dari belakang.

"Kamu sudah hamil ya sayang," tanya ayah sambil memeluk dan memegangi perutku dari belakang.
"Iya yah, sebentar lagi saya akan kasih ayah cucu," jawabku membiarkan ayah tetap memelukku, karena kupikir ayah sangat menyayangiku.
"Kalau mulai hamil, perutmu harus sering diusap dan dipijit pelan supaya bayinya nggak turun," ayah berkata itu sambil mengusap perutku dengan posisi tetap memelukku dari belakang.
Kubiarkan ayah melakukan itu sementara aku tetap sibuk memindahkan makanan untuk ayah.
"Si Hamdi sering mijitin kamu nggak sayang," ayahku bertanya lagi.
"Uh ayah ini, Mas Hamdi kan kerja, pulangnya capek mana sempat mijitin saya. Bukannya saya sebagai istri yang harus mijitin dia?" kujawab ayah dan melepaskan pelukan ayah, lalu aku pindah keruangan depan.

Siang itu, seperti biasanya sebelum pulang aku sempatkan untuk ngobrol bersama ayahku. Selain menanyakan kebutuhan apa saja yang harus kubawakan, aku juga kerab berkeluh kesah tentang sikap mertuaku, ibu Mas Hamdi yang sampai saat itu belum bisa kuakrabi sebagai menantu. Tapi siang itu ayah justru membicarakan masalah kehamilanku, masalah perawatan janin diperutku, termasuk masalah harus rajin diusap dan dipijat perutku.

"Nah.. suamimu kan nanti malam melaut, kamu datang kemari saja supaya ayah bisa pijitin ya," begitu pinta ayah sebelum aku pulang.

Aku pun mengiyakan saja, soalnya biasanya Mas Hamdi pulangnya agak siang setelah melaut. Lagipula, dirumah mertua aku sering bingung mau melakukan apa, maklum mertuaku belum sreg benar kepadaku kelihatannya.

Malam itu setelah Mas Hamdi pamit melaut, aku langsung kerumah ayah. Tentu saja aku pamit ke mertua untuk menengok ayah, kataku pada mereka, ayah sedang sakit. Waktu aku datang, ayah sedang mendengarkan siaran radio sambil menghisap rokok tembakau lintingan diruang tamu.

"Malam yah.. kok ngelamun sih?" sapaku sambil bergelayut dilengan ayahku.
"Iya sayang, ayah lagi ingat masa muda dulu," ayahku tetap asyik dengan rokok lintingnya.
Dari bibirnya segera meluncur secuil perjalanan hidupnya yang sebenarnya sudah sering diceritakan pada kami, anak-anaknya.
"Tuh kan ayah jadi cerita, jadi nggak nih mijitin saya? katanya sayang sama cucu yang masih diperut ini?" aku merajuk menghentikan ceracau ayahku tentang hidupnya.
"Iya..iya, tapi sekarang kamu mandi dulu sana," perintah ayahku.

Aku langsung mandi dan terus kekamar ayahku. Saat itu seluruh pakaianku kutanggalkan dan hanya menggunakan kain sarung milik ayah untuk menutup tubuhku. Biasanya dikampung ini, melilit tubuh dengan sarung sudah jadi tradisi tiap wanitanya.

"Sekarang berbaring diranjang itu ya sayang, ayah ambilkan minyak kepala dulu," ayahku memandangi tubuhku dengan senyuman, lalu meninggalkanku sendirian dikamar, aku pun menunggunya sambil berbaring diranjang. Tak lama kemudian ayah datang membawa sebotol kecil minyak kelapa.
"Memang susah anak muda sekarang, nggak perhatian sama istrinya," ayahku bicara sendiri ketika duduk ditepi ranjang.
"Iya, untung saya masih punya ayah yang perhatian ya yah," kataku.

Tangan ayah segera menyibak kain yang kukenakan dibagian atas, sehingga susuku tanpa pembungkus bebas terlihat. Tetapi aku sama sekali tak risih karena sejak kecil sampai gadis pun aku sering dilihat mandi telanjang oleh ayah. Jemari ayah yang kasar mulai mengusapi perutku dengan minyak kelapa, sesekali tangannya memijit bagian perutku.

"Tuh kan? Posisi bayimu agak turun, kamu sering merasa sakit ya?" ayah bertanya sambil tangannya terus memijiti perutku.
"He-eh yah.., sering capek juga kakinya," jawabku menikmati pijitan ayah.
"Ya sudah, nanti ayah pijitin seluruh badanmu ya," ayah mengatakan itu, lalu pijitannya pindah kebetisku, pijatannya bergantian betis dan perut.

Sambil dipijit, aku dan ayah tetap ngobrol, mulai masalah harga ikan yang sedang turun, sampai masalah masa lalu ayah dengan ibuku.

"Uhh.. sakit yah," aku agak berteriak saat merasakan sakit dibagian perut saat tangan ayah memijit.
Ayah menghentikan pijitannya, tetapi tangannya tetap berada diatas perutku.
"Ini ya yang sakit Mar? Wah.. ini bisa bahaya, kalau dibiarkan nanti anakmu bisa cacat lho kalau lahir," kata ayah dengan raut wajah serius.
"Cacat? Jadi gimana dong yah, Mar nggak mau punya anak cacat," aku takut sekali waktu itu, takut menanggung malu jika kelak melahirkan anak yang tak normal.
Ayah tak langsung menjawab pertanyaanku, ia kelihatan sedang berpikir, tapi kemudian tersenyum.
"Bisa kok ayah obatin, tapi ayah harus siapin obatnya dulu ya," ayah kemudian meninggalkanku sendirian dalam kamar. Tak lama ayah datang lagi dan membawa baskom plastik berisi air dan beberapa kembang kenanga.

Ayah kemudian menjelaskan padaku bahwa ia akan mengobati kehamilanku dengan pengobatan tradisional.
"Tapi ayah harus masukan air kembang ini kedalam rahimmu sayang, kamu bisa tahan sakit sedikit kan?" ayah mengatakan itu dengan sangat meyakinkan.

Semula aku ragu, apalagi ayah bilang kalau dia akan memasukan air kembang itu dengan cara menyemburkannya divaginaku. Tetapi keraguanku pupus setelah ayah berkali-kali meyakinkanku. Sampai sekarang pun aku tak tahu pasti apa kata ayahku itu benar atau hanya sekedar akal bulusnya saja. Tetapi yang jelas, saat itu aku menurut saja ketika ayah menyingkap sarung yang kukenakan dibagian bawah dan meminta aku mengangkangkan kaki dalam posisi terlipat, seperti posisi wanita yang hendak
bersenggama dengan lelaki. Ayah sendiri naik keranjang dengan posisi bersimpuh dihadapan kangkangan kakiku. Terus terang aku malu dan kikuk menyadari betapa vaginaku terpampang jelas tanpa penghalang didepan mata ayahku.

"Kamu tenang saja ya sayang, tidak lama kok," katanya, lalu meneguk air kembang dalam baskom dan menampung dalam mulutnya yeng menggelembung.

Aku sangat penasaran apa yang akan terjadi selanjutnya, apalagi saat kepala ayah mulai merunduk melewati dua pahaku, mendekati vaginaku yang tak terbungkus CD. Beberapa detik kemudian kurasakan dingin mejalar dipermukaan kemaluanku, rupanya ayah sudah menyemburkan air dalam mulutnya tepat kevaginaku. Yang kurasakan selain dinginnya air kembang, juga perasaan geli dibagian vitalku. Ayah mengulangi lagi meneguk air itu dan menyemburkan ke vaginaku, beberapa kali. Hal itu menimbulkan perasaan tak menentu padaku, geli, dingin bercampur enak.

"Gimana Mar, sudah agak membaik rasa sakitnya?" ayah bertanya padaku.
Namun belum sempat kujawab tangan kanan ayah tiba-tiba membelai vaginaku.
"Sabar ya, ayah harus pastikan air kembang itu masuk sampai kerahimmu," katanya, sambil tangannya terus mengusapi bibir vaginaku.

Usapan tangan ayah divaginaku yang sudah basah terkena air kembang membuat sensasi tersendiri kurasakan, aku pun tak bisa berkata-kata lagi karena mendadak lemas seluruh sendi tubuhku.
"Uhh yahh.. sudah yah.., Mar nggak bisa tahan geliinya," bibirku meminta ayah menghentikan aksi usapnya, tetapi kedua tanganku tak menahan tangan ayah yang aktif, tetapi tanganku justru meremasi sprei ranjang kanan dan kiri.
"Disini ya sayang yang geli itu," ayah bertanya sambil jempol kanannya menekan klitorisku dan menguyak-nguyak benda sensitifku itu memutar kecil.
"Nnnghh.. iya yah.. geli sekali disituhh," nafasku mulai tersengal menahan geli yang nikmat dibawah usapan jempol ayah dibagian klitorisku.

Rasa gatal yang sangat kurasakan dipucuk-pucuk kedua susuku yang putingnya sudah mengembang pertanda birahi yang kualami.
Ayah meneruskan aktifitasnya mengusapi klitorisku dengan jempolnya, usapan itu perlahan melemah dengan posisi jempol beranjak menjauh dari klitorisku. Saat itu aku sudah sangat terangsang oleh ayah, pinggulku kini yang naik mengejar jempol ayah agar tak meninggalkan klitorisku. Aku menggelepar dengan napas sudah sangat tidak beraturan lagi, pikiranku sudah melayang dan tak ingat lagi bahwa yang merangsangku adalah ayahku sendiri. Tapi disaat aku sudah sangat terangsang seperti itu, ayah justru menghentikan aktifitasnya di klitorisku. Pinggulku yang tadinya sedikit mengangkat mencari jempol ayah langsung terjerembab lagi, aku terpejam menahan gejolak yang berkecamuk ditubuhku.

"Auhh yahh, kenapa?" tanyaku agak kecewa, tapi mendadak malu saat ayah menatapku, malu karena aku seperti meminta hal yang lebih dari ayahku.
"Mar.. sepertinya air kembang itu tidak masuk benar dalam rahimmu. Ayah ulangi semburannya ya," kata ayahku.
"Yah.. sudah saja ya, Mar.. nggak tahan gelinya," pintaku, tapi anehnya tubuhku tetap berbaring seolah tak ingin menjauhi ayah.

Ayah tak menjawab permintaanku dan kembali meneguk air kembang lalu ditampung dimulutnya. Aku memejamkan mata saat kepala ayah kembali tunduk mendekat ke pangkal pahaku. Aku kembali merasakan dingin di permukaan vaginaku saat ayah mulai menyemburkan air kembang, tapi kali ini lain, setelah semburan itu aku merasa ada benda kenyal nan lembut menyapu permukaan
vaginaku. Kupikir itu jemari tangan ayah, tetapi tidak, itu bukan tangan, benda bertekstur lembut, hangat, dan kenyal itu adalah lidah ayah. Ya, ayah mengusapi tepatnya menjilati permukaan vaginaku dengan lidahnya.

"Ihh.. mmpphh yaahh, aauhh hhsstt," aku tak kuasa menahan rasa nikmat dijilati ayah, terus terang sejak kawin dengan Mas Hamdi belum pernah aku diperlakukan seperti itu. Mas Hamdi selalu main langsung tembak, tanpa rangsangan lebih dulu sehingga selama ini aku sendiri belum pernah merasakan apa yang disebut kenikmatan orgasme. Jilatan ayah mulai meningkat, kini lidahnya justru sering menelusup belahan bibir vaginaku yang mulai banjir. Cairan bening kental dari vaginaku diseruput ayah seperti menyeruput kopi hangat dari gelasnya.

"Ngghhsstt.. yah.. Mar nggak bisa tahnn.. ouhh.." aku mulai menggelinjang tak menentu rasanya.

Namun disaat aku mulai melambung tinggi, ayah menghentikan lagi aktifitasnya di vaginaku, membuat aku menggelepar menahan birahiku sendiri.
"Mar.. ayah agak sulit masukan air kembang itu kerahimmu. Tahan sebentar lagi ya," katanya.
"Yah.. cepetan ya, Mar nggak kuat lagi, geli sekali yah," aku merasa semakin lemas karena birahiku dipermainkan seperti itu.

Saat itu aku berhayal seandainya Mas Hamdi ada tentu dialah yang akan memuaskanku dengan penisnya, karena aku merasa sudah siap betul dan ingin sekali untuk disetubuhi lelaki. Tapi pikiran itu kutepis, karena bukankah ayah yang sedang mengobati kandunganku? Aku tak berpikir bahwa ayah pun terangsang saat itu.

Tapi tak lama kemudian kurasakan nafas ayah kembali mendekati vaginaku, setelah meneguk air kembang yang hampir habis di baskom. Ayah tidak lagi menyemburkan air itu dengan berjarak dari vaginaku, tetapi bibir ayah langsung menempel dibibir vaginaku dan ia menyemburkan air itu. Kurasakan aliran air itu masuk hingga ke dinding rahimku, rasanya sama seperti saat Mas Hamdi menumpahkan spermanya ketika kami bersenggama. Setelah itu bibir ayah melumati bibir vaginaku, lidahnya mulai masuk dibelahan vaginaku membuat nikmat yang sangat dibagian sensitif itu, aku benar-benar kepayang dibuat ayah. Kini jemari tangan ayah turut menyibaki vaginaku, membukanya lebar dan lidahnya menyapu klitorisku dari atas kebawah dan sebaliknya dari bawah keatas.

"Ouhh.. yah.. suddhh yaahh, Mar mau kencingg rasanya ah.." seluruh sendiku terasa ngilu dan mengembang bersama kedutan kecil didinding vaginaku, aku hampir sampai puncak orgasmeku.
"Iya sayang, sudah selesai kok," lagi-lagi ayah menghentikan aktifitasnya, tapi saat kubuka mata ternyata kali ini tubuh ayah sudah berada diatas tubuhku dengan bertopang pada dua tangannya.
"Yah.. kok ayah begitu? Ouhh yahh.. ahh," belum habis kagetku karena ayah menindih, aku merasakan ada benda keras yang masuk ke vaginaku.

Ternyata ayah sudah melepaskan celananya dan penisnya yang tegang dimasukan ke vaginaku. Aku hendak berontak karena hal itu tabu dikampungku dan dimanapun, bukankah seorang ayah tak boleh melakukan itu pada anak perempuannya. Perang bathin kualami saat itu, aku ingin mendorong tubuh kekar ayahku tetapi aku sudah sangat lemas saat itu. Sementara dorongan birahiku ingin segera terpuaskan dengan senggama bersama lelaki.

"Oohhgg, Mar.. angap saja ayah Hamdi Mar.. ouhh ayahh nggak tahhann," ayah tetap menindihku dan kini pinggulnya mulai naik turun diatas tubuhku membuat penisnya bebas keluar masuk diliang nikmatku yang sudah licin dan becek oleh cairanku sendiri.
"Nghhg.. aahsstt, yahh.." aku tak kuasa lagi menolak penis ayah yang mulai mengobati rasa gatal di vaginaku.

Dengan mata terpejam aku malah ikut menyambut goyangan ayah dengan goyangan pinggulku. Merasa aku tak melawan, ayah pun semakin liar menyetubuhiku, anak kandungnya. Kini sambil menggenjotku, bibir ayah menjelar menghisapi puting susuku, sehingga senggama kami sempurna dan kenikmatan yang kurasakan pun semakin tak tertara bila dibanding senggamaku bersama suami.

Sekalipun usia ayah sudah kepala enam, tetapi kondisi fisiknya masih kuat dan kurasakan penisnya pun masih normal dengan ukuran yang sedikit lebih besar dari punya Mas Hamdi.

"Yahh.. Marr mauu kencinghh yahh uuh..sstt,"

Sepuluh menit berlalu dalam senggama, kurasakan kenikmatan mulai mengumpul di pangkal pahaku, bongkahan pantatku, ujung-ujung jari kakiku, dan juga di liang nikmatku. Kedutan semakin terasa didinding vaginaku, dan akhirnya kurasakan kejang dibagian pinggul sampai kakiku, kakiku kemudian kugunakan untuk menjepit pinggul ayah dan menekannya agar lebih dalam penisnya bersarang di vaginaku. Tanganku memeluk tubuh berkeringat ayah, sementara kepalaku terangkat dengan bibir menyedok kulit dada ayah. Dalam kondisiku yang puncak itu, ayah masih menggejot penisnya beberapa kali sebelum akhirnya
ayaHPun mengejang dan mengerang diatas tubuhku.

"Ahhgg Mar.. ngghh," ayah lalu lunglai dan berbaring disampingku yang juga lemas tak bertenaga. Tulangku seakan dicopoti saat itu, namun kuakui itulah kali pertama aku kepuncak nikmatnya senggama.

Malam itu aku tidur bersama ayahku dirumahnya, dan paginya kami seperti melupakan kejadian itu. Akupun pulang kerumah mertua pagi harinya, dan bersikap seperti biasa saat Mas Hamdi pulang melaut.

*****

Kejadian pertama bersama ayah, membuat aku agak malu untuk datang kerumah ayah lagi. Sudah dua minggu ini aku tidak menjenguk atau mengantarkan makanan untuk ayah. Entahlah, walau sebenarnya aku tak keberatan disetubuhi nikmat oleh ayah, tetapi aku malu kalau disangka ayah ingin mengulangi kenikmatan itu lagi.

Sore itu, sebelum Mas Hamdi melaut seperti biasa ia meminta jatah dilayani kebutuhan biologisnya. Sebagai istri kulayani suamiku semaksimal mungkin. Tapi seperti biasa juga, Mas Hamdi hanya memikirkan kepuasannya saja, dan sudah mengejang menyemprotkan air maninya sebelum aku merasa terangsang, apalagi orgasme.

"Mhh, aku sayang kamu Mar.." Mas Hamdi selalu mengatakan itu sambil mengecup keningku setiap kali usai menikmati klimaks diatas tubuhku, lalu ia mengenakan kembali pakaiannya dan meninggalkanku sendiri dikamar, ia pun melaut bersama teman-temannya.
"Hati-hati Mas..," hanya itu yang kuucapkan melepas pergi suamiku.

Aku tetap berbaring diranjang tanpa mengenakan kembali pakaianku, rasa kecewa terhadap suamiku tumpah lewat air bening yang meluncur ditepian mataku. Aku merasa tersiksa dua minggu ini setiap kali berhubungan intim dengan suamiku, tersiksa karena tak mendapatkan nikmat yang maksimal seperti yang kudapat dari ayahku. Setelah suamiku menhilang dibalik pintu, aku bangkit dan mengunci kembali pintu kamar. Kembali berbaring diranjang tanpa busana, aku menghayalkan kenangan nikmat bersama ayah. Tak terasa tanganku mulai meremasi payudara sendiri, sambil membayangkan ada lelaki yang sedang mencumbuiku, aku pun menjelajahi bagian tubuh sensitifku sendiri. Malam itu aku mencapai orgasmeku dengan masturbasi sambil menghayalkan ayahku, lalu tertidur pulas.

Esoknya, pagi-pagi benar sebelum Mas Hamdi pulang melaut, aku menyiapkan makanan untuk kubawa kerumah ayah. Entahlah, aku ingin sekali kerumah ayah pagi itu.

"Eh kamu Mar.. ayah kira siapa," kata ayah menyambut ketukan pintuku.
"Iya nih yah, bawakan ayah makanan," aku menjawab tanpa mampu menatap mata ayah, aku malu dan jadi canggung pada ayahku sendiri.

Ayah kemudian menyuruhku masuk, dan seperti biasanya aku langsung kedapur untuk memindahkan makanan dirantang yang kubawa kepiring di dapur rumah ayahku.

"Gimana sayang, sudah nggak sakit lagi perutmu?" suara ayah menyapaku, dan aku agak terkejut ketika ayah tiba-tiba sudah mendekap tubuhku dari belakang sambil tangannya mengusapi perutku yang nampak sedikit membuncit dengan usia kehamilan 3 bulan.
"Eh ayah.. Mar sampai kaget. Kadang-kadang masih tuh yah, tapi agak membaik kok setelah dipijit ayah waktu itu," aku bingung harus menjawab apa saat itu.
"Gimana kalau ayah pijit lagi? biar nggak sakit-sakitan perutmu itu," nafas ayah tepat menghembusi tengkukku, membuat aku menahan geli dan merinding.

Sebelum aku menjawab, tangan ayah kurasakan membelai bongkahan pantatku dan mulai menyingkap naik bagian bawah daster yang kupakai pagi itu.

"Enghh ayah.. jangan lagi ah," aku berusaha menepis tangan ayah dan kembali meneruskan kegiatanku merapikan piring di meja dapur ayah. Tapi tangan ayah seperti tak mau pergi, dari belakang itu ayah malah memasukan tangannya kebalik dasterku dan mengusapi bongkahan pantatku, sesekali meremasinya.

"Ya sudah, kalau nggak mau dipijitin dikamar, ayah pijitin disini saja ya. Kamu kan bisa sambil rapikan piring itu," ayah semakin berani menyusupkan tangannya kebalik CD ku, sehingga kini tangan kasarnya mengusapi pantatku tanpa penghalang. Saat tangan ayah langusng menyentuh kulit pantatku secara langsung, aku merasakan desiran aneh yang kemudian memacu libidoku.
Kucoba menahan desiran itu dan tetap merapikan makanan diatas meja dapur, tetapi aku tak lagi menepis aktifitas ayah, aku membiarkan ayah berbuat semaunya.

"Asshtt yah.. janganhh geli yah," aku menggelinjang saat bibir ayah mengecup tengkukku, tapi aku tak mampu menghindarinya.
"Kamu merunduk diatas meja ya sayang, tenang saja.. supaya perutmu cepat sembuh, ayah pijitin sambil berdiri ya," ayah menekan bahuku dari belakang sehingga posisi tubuhku merunduk dengan kedua tangan menopang dibibir meja.

Penasaran juga apa yang akan ayah lakukan, aku pun tak bisa menjawab selain mengikuti perintah ayah itu. Kini pekerjaan merapikan piring sudah tidak ada lagi, yang ada aku merunduk pasrah di meja itu, menunggu apa yang akan ayah lakukan selanjutnya.

Desiran yang kurasa semakin menjadi saat ayah melorotkan CD yang kupakai lalu menyingkap naik bagian bawah dasterku. Posisiku jadi nungging membelakangi ayah dengan tubuh bagian bawah bugil. Ayah lalu memandu kedua kakiku untuk lebih merenggang jarak, lalu ia pun berlutut dibagian itu.

"Bagus sekali kemaluanmu ini Mar.." ayah memujiku.
"Ayah, saya mau diapakan lagi sih?"

Aku penasaran apa yang akan diperbuat ayah terhadapku. Tapi lagi-lagi ayah bilang kalau itu termasuk pengobatan tradisional yang akan mempermudah aku melahirkan kelak. Sambil menjelaskan itu padaku, tangan ayah mulai menjelajahi belahan pantatku
dan kadang menyusup sampai kebibir kemaluanku.

"Hsstt ahh," aku tak bisa menahan desah yang keluar akibat napasku mulai tersengal menahan dampak aksi ayah.

Perasaan geli menjalari vitalku dan membuat tenaga dikedua kakiku seperti melemah, posisiku jadi lebih merunduk dengan tangan terlipat dimeja dan susuku terhimpit antara badan dan meja. Aku melangkah mundur sedikit menjaga agar perutku tak tertindis tubuh dan terhimpit meja. Posisi itu rupanya membuat ayah semakin mudah menggapai vaginaku dari belakang karena tinggi meja yang hanya satu meter membuat aku nungging maksimal membelakangi ayah yang berlutut.

"Tahan sebentar ya sayang.. cuma sebentar kok,"

Ayah tak lagi mengusapi bongkahan pantatku, kini kedua tangannya menahan bongkahan pantatku dan menguaknya agar bibir vaginaku terlihat. Ditengah penasaranku, tiba-tiba kurasakan lidah ayah sudah menyapu bibir vaginaku. Ritme jilatan ayah di vaginaku sungguh teratur, setiap lima kali menjilat naik turun ayah selalu menghentikannya dibagian klitoris untuk menekan klitorisku dengan lidahnya itu.

Kendali benar-benar dipegang oleh ayah saat itu. Aku sudah tidak mampu lagi bergerak, apalagi menolak perlakuan ayah padaku. Cairan kental kurasa sudah mulai keluar dari vitalku membuat ayah semakin leluasa menjilat, mengecup, dan mengulum bibir vaginaku. Dendam nikmat yang tak kuraih dari Mas Hamdi semalam, ingin kutumpahkan disini, bersama ayahku.

"Aduhh yahh.. gelhihh sekalhii ehhsshh," saat ritme jilatan ayah menekan klitorisku, pantatku menyambut bergerak kebelakanng membuat wajah ayah tenggelam dibongkahannya, aku ingin agar lidah itu menekan lebih keras klitorisku. Tanganku menggapai apa saja yang ada diatas meja, meremasi gelas dan serbet disana demi menikmati sensasi itu. Koyakan-koyakan lidah ayah menembusi belahan bibir vaginaku, sesekali ayah menyedot dan menelan cairan kental yang keluar, lalu mengoyak lagi dan lagi.

"Ehm.. kemaluanmu sudah mulai berkedut Mar, apa sakit diperutmu sudah mulai hilang?" ayah menghentikan jilatannya dan bangkit mendekap tubuhku yang tetap nungging.
"Mhh aahh, belum yahh.. masih sakit perut Mar," aku menjawab begitu agar ayah meneruskan lagi jilatannya dan membuai lagi birahiku.
"Belum? Kalau begitu ayah teruskan ya pijitannya, kalau begini enak tidak sayang?" ayah berdiri dibelakangku, kedua tangannya mencengkeram pinggulku. Belum lagi aku menjawab pertanyaan ayah, kurasakan benda hangat dan tegang ingin menembus vaginaku.
"Ohh yaahh..," penis ayah yang sudah berada digerbang liang nikmatku langsung amblas separuh di vaginaku saat aku mundurkan pantatku.

Tapi ayah seperti ingin menyiksa birahiku, ia tetap berdiri mematung sekalipun penisnya sudah masuk separuh ke liang nikmatku. Kini akulah yang aktif memburu batang perkasa ayah, pinggulku memutar dan mundur-mundur menahan gatal yang ingin agar penis itu masuk utuh divaginaku. Beberapa menit seperti itu, ayah pun tak bisa lagi menahan birahinya, dan siap
menggenjotku. Tetapi baru saja ayah terasa akan menekan pinggulnya kedepan, mendadak terdengar ketukan pintu rumah. Ayah beranjak menjauhiku dan menaikan celananya lagi.

"Ada orang Mar.. kamu perbaiki bajumu ya, ayah lihat siapa yang datang," ayah meninggalkanku didapur.

Agak kesal memang saat itu karena aku sudah terlanjur birahi dan ingin sekali terpuaskan. Tapi kesal itu luntur saat terdengar suara Henny, adik bungsu Mas Hamdi.

"Mbak Mar ada Pak Sam.., saya disuruh panggil, Mas Hamdi sudah pulang," begitu suara Henny terdengar.
"Oh.. ada nak, Mbak Mar ada disini baru ngatur makanan untuk saya. Mar, Mar.." ayah memanggilku.
"Eh Henny, Mas Hamdi pulang ya.., yuk kita pulang. Yah Mar pulang dulu ya," aku berpamitan dan mengajak Henny pulang kerumah mertuaku, hari sudah beranjak siang saat itu.

Sampai dirumah Mas Hamdi memintaku membuatkan kopi untuknya, lalu dia banyak bercerita tentang hasil melautnya semalam.

"Cakalang sedang banyak Mar, mungkin setelah makan siang nanti saya bersama kawan-kawan kembali ke laut, mumpung rejeki nih," katanya.
"Iya Mas, tapi hati-hati ya," jawabku.

Setelah minum kopi, Mas Hamdi menarikku kekamar, dan minta aku melayani nafsu seksnya. Untung baru beberapa saat aku dirangsang ayah sehingga aku sangat senang melayani Mas Hamdi. Tapi seperti biasa, Mas Hamdi main tubruk saja. Menindih tubuhku masih lengkap dengan baju, Mas Hamdi hanya membuka resleting celananya. Dasterku hanya disingkap keatas dan CD dipelorot kebawah lalu ia menggenjotku.

"Ohh mass, enaakhh mass," walaupun Mas Hamdi tak merangsangku namun dengan membayangkan buaian ayah tadi, aku bisa terangsang dan benar-benar ingin dipuaskan. penis Mas Hamdi menembusi vaginaku dengan cepat.
"Iyahh sayangghh enaakhh sekalii.. pepekmu ougghh," Mas Hamdi melenguh, padahal baru beberapa menit penisnya masuk di pepekku.
"Ouhh.. Sstthh.. janghaann duluu mass, ahh," ingin kuhentikan saat merasakan penis Mas Hamdi berkedut menyemburkan sperma kerahimku. Oh, lagi-lagi dia hanya memikirkan kepuasan sendiri, tanpa mengerti perasaanku yang juga ingin merasakan nikmatnya disetubuhi suami.
"Uhh, nikmat sekali sayang, makasih ya," katanya, mengecupku, lalu pergi.

Aku ingin sekali marah, berteriak, dan maki-maki, tetapi semua hanya bisa tumpah lewat tangisan siang itu.

Sore hari setelah Mas Hamdi melaut, aku berpamitan kepada mertuaku untuk menjenguk ayah. Lagi-lagi alasanku ayah sedang sakit. Begitulah, sore itu aku kembali berada dirumah ayah, dan tak ingin membuang waktu aku langsung memluk tubuh ayah begitu masuk rumahnya.

"Oh.. ayahh, Mas Hamdi jahat yah..," aku menangis dipelukan ayah diruang tamu.
"Kamu kenapa Mar..? kenapa kamu..?" ayah nampak khawatir melihat aku menangis.
"Dia menyetubuhiku tapi perutku tambah sakit yah, ini yah disini sakit," aku menuntun tangan ayah keperutku yang mulai membuncit.
"Disini ya, sayang. Sudah, kamu diam ya nanti ayah obati.., nah disinikan yang sakit? disini juga ya..?" ayah seperti mengerti apa yang kuinginkan dalam posisi berpelukan sambil berdiri, tangan ayah mulai merayapi dari perut sampai selakanganku, membuat gairahku bangkit seketika.

"Ayo sayang, ayah obatin dikamar.., ups.."

Ayah membopong tubuhku dan membaringkanku diranjang kamarnya. Setelah itu, bagai serigala lapar, ayah melucuti pakaianku dan pakaiannya juga. Ayah langsung menerkam selangkanganku yang membasah dan menjilati lagi vaginaku.

"Ohh iyaahh yaah.. begitu yahh.. aahh," aku tak lagi bisa mengendalikan ocehanku, nikmat sekali perlakuan ayah itu.

Mendengar celotehku tangan ayah naik merambati susuku, meremas, dan mencubiti putingnya. Sepuluh menit mempermainkan vagina dan susuku, ayah rupanya tak tahan juga. Apalagi pagi tadi pasti ayah pun sangat menyesal nafsunya tak tuntas.

"Uh Mar.., angkat kakimu ya.. begini sayang," ayah membimbing kakiku menopang dipundaknya.

Dengan posisi itu ayah menepatkan penisnya dibelahan bibir vaginaku.

"Yahh.., obatin Marr yah.. cepet yahh," aku sudah merasa gatal sekali ingin segera menerima sodokan penis kekar ayahku.
"Mar.., kalau lagi hamil muda memang wanita butuh beginian, kalau suamimu susah, kamu sering kemari ya, biar ayah obatin.
Lagipula, wanita hamil paling enak memeknya.. kayak kamu ini," ayah sengaja lagi mempermainkan birahiku, aku diajaknya ngobrol sementara kepala penisnya yang bulat dibiarkan membenam di pintu vaginaku tanpa memasukan batangnya.

"Gimana Mar? Kamu jawab donk sayang..?" tanyanya.
"Duhh ayahh.. masukinn dong yahh, Mar nggak bisa nahan lagihh, ahh.. iyaa uhh," belum selesai aku memohon, ayah menekan pinggulnya, membuat penisnya masuk keliang nikmatku.
Bless.. cleepp..
Posisi yang dibimbing ayah ternyata membuat syaraf divaginaku menerima rangsangan yang maksimal. Dengan posisi itu penis ayah menekan cukup diklitorisku setiap kali keluar masuk menembus bibirnya. Penis ayah yang sedikit lebih gemuk dari penis suamiku serasa membuat bibir vaginaku ikut monyong-monyong menerima sodokannya. Tangan ayah meremasi susuku dengan keras, dan tanganku hanya bisa melampiaskan nikmatku dengan meremasi bantal dikepalaku.

Kunikmati setiap gerakan ayah, aku juga berusaha menggoyang ayah dari bawah memutarkan pinggulku semampuku, aku pun ingin ayah merasakan kenikmatan yang sama seperti yang kudapat darinya. Mungkin benar kata ayah, saat hamil muda wanita sangat butuh seks dan butuh terpuaskan. Rambutku yang panjang sudah acak-acakan mengikuti gerak kepalaku yang liar. Keringat ayah dan keringatku bercampur membasahi tubuh kami dan juga sprei ranjang.

"Ohh Marr.. bukan mainn Mar.. enakh sekali pepekmu nak..," ayah sudah hampir jebol, gerakan menggenjotku semakin cepat.
"Oyaahh..mmphh aahhsstt.. enaakk juggaa konntollnyaahh.. aahhsstt," saat gerakan ayah lebih cepat, rangsangan diklitorisku menjadi puncak.

Aku juga hampir jebol, meski berusaha kutahan tapi kedutan kecil dinding vaginaku semakin menjadi, sampai akhirnya kupiting leher ayah dengan betisku yang menggatung.

"Amphuunn yahh.. aahhsstt,.. enghh.. ahhsstt..enghmm.. yahh.. ohh," aku jebol, vaginaku berkedut menjepiti penis ayah.
"Maarr.. ennaakk ohh.. ouhh.. ohh, ennaakkh Marr ohh," beberapa detik kemudian ayah menyusul orgasmeku, tubuhnya mengejang dan tangannya semakin keras meremas susuku.

Ayah menurunkan kedua kakiku dari pundaknya tanpa melepaskan penisnya yang terjepit vaginaku, dan mengarahkanku untuk berbaring miring berhadapan dengannya yang terkulai disampingku, kelamin kami tetap menyatu saat itu. Sampai akhirnya penis ayah mengecil dan melepaskan diri dari jepitan vaginaku. Saat lelah kami terobati dengan tidur beberapa jam, malam itu aku pulang kerumah mertua, dan melanjutkan tidur nyenyak dengan perasaan nyaman sekali.

Seperti kejadian pertama, meskipun aku terpuaskan bukan main tapi kejadian kedua bersama ayah menyisakan sesal dibathinku. Apalagi setiap kali aku mendengar ceramah rohani, aku merasa dosa terhadap Mas Hamdi suamiku. Selain itu aku juga merasa dosa melakukan hubungan intim dengan ayah kandungku, bukankah kami sedarah dan tabu untuk melakukan itu?

Tapi entahlah, dibalik rasa sesal itu, ada rasa ingin mengulangi yang juga sama besarnya. Dua perasaan itu berkecamuk dibathinku seminggu ini, selama itu aku ingin sekali ke rumah ayah tetapi batal karena rasa sesal tadi. Pagi itu aku merasa perang bathin lagi, tapi nampaknya rasa sesalku kalah kali ini dengan rasa ingin mengulangi nikmat bersama ayahku. Apalagi semalam aku kembali kecewa dibuat Mas Hamdi. Walaupun semalam Mas Hamdi sampai tiga kali menindih tubuhku dengan nafsu, tetapi ia selalu selesai sebelum aku puncak.

Setelah menyelesaikan pekerjaan rumahku, aku mengemasi makanan untuk kubawa kerumah ayah yang sudah seminggu ini tak kukunjungi. Kupikir aku bisa menghabiskan waktu disana karena Mas Hamdi baru subuh tadi berangkat dan tentu pulang malam. Maklum arah angin berubah sehingga hari itu Mas Hamdi melaut pagi.

Waktu aku sampai dirumah ayahku, rupanya pintu tak terkunci sehingga aku bisa langsung masuk. Kulihat ayah tertidur di kursi bambu ruang tamu, hanya pakai sarung dan telanjang dada. Kubiarkan ayah tidur sementara aku kedapur memindahkan lauk dari rantang ke piring yang ada dimeja dapur. Setelah itu aku kembali keruang tamu dan memperhatikan ayahku yang tertidur dikursi panjang dari bambu. Dibanding Mas Hamdi, ayah memang bertubuh lebih bagus walau sudah cukup tua. Dada bidangnya masih menonjolkan otot semasa muda dulu membuat tubuh yang tingginya mencapai 178 cm masih terlihat kokoh jika berdiri.

Mataku menjelajahi tubuh ayah yang terlentang, dari kaki sampai wajah. Wajah ayah juga masih menawan untuk lelaki seusianya, mirip-mirip aktor gaek Pit Pagauw yang mancung dan ganteng itu. Kuyakin, sebenarnya banyak wanita yang tergila-gila pada ayah, hanya saja ayah benar-benar sudah trauma dengan kegagalan perkawinannya dengan ibuku. Huh.. seandainya aku lahir di zaman ayah dan bukan anak ayah, ingin rasanya aku kukawini ayah dan menjadi istrinya. Tentusaja kenikmatan dapat kuraih setiap saat darinya, tapi mungkin bukan itu ukuran kebahagiaan tiap wanita, buktinya ibuku memilih meninggalkan ayah dan kawin lagi dengan pria yang lebih kaya.

"Ngghh.." ayah menggeliat tetapi tetap tidur, kaki kanannya yang terangkat membuat sarung yang dikenakan singkap hingga pangkal paha ayah terlihat jelas.

Oh.. Kekarnya penis ayah langsung membayang dibenakku, apalagi saat itu ujung penis tidurnya terlihat. Ayah tak menggunakan CD rupanya, sehingga penisnya menggelayut keluar dari kain sarung ketika kaki kanannya terangkat dan sarung itu tersingkap. Penis ayah yang tidur saja sudah hampir sama besar dengan milik suamiku, dadaku langsung berdesir saat itu, birahiku merambat naik.

Entah setan apa yang menguasaiku saat itu, aku mendekat dan bersimpuh dilantai menghadap kursi tempat ayah tidur. Posisi wajahku berada beberapa centimeter dari penis ayah yang keluar dari sarung. Dengan sangat lembut kusentuh penis ayah yang masih tidur, dan pelan-pelan kugenggam penis itu dan kuusap-usap mengocok-kocok penis ayah. Walau ayah hanya bergumam kecil dan tetap tidur, tetapi reaksi penisnya positif, batang nikmat itu perlahan membesar dan menegang seirama dengan kocokanku. Aku benar-benar blingsatan sendiri menyadari penis ayah sudah on dan siap aksi, entahlah hari itu sebelum mendapat foreplay dari ayah, aku justru sudah terbakar birahi.

"Ouhh.. Sayangg.." ayah mendadak terbangun, tangannya meremasi rambutku dan menuntun kepalaku mendekat ke penisnya.
"Tolong hisap sayang, seperti ayah menjilati vaginamu itu," ayah memerintahku, dan perintah itu kulaksanakan tanpa keberatan, walau sebenarnya baru kali itu aku menghisap penis lelaki.
"Mmmphh ssthh mmpphh.. Ahh, enak yah?, mmphh sshtt," kulakukan pekerjaanku dengan baik.

Tubuh ayah sampai menggelinjang beberapa kali menahan kenikmatan oralku. Saat mulutku mengulum penisnya, ayah menggerakkan tangan yang memegang rambutku maju-mundur ke arah penisnya, membuat mulutku secara otomasi maju mundur pula menelan dan melumat penis ayah. Cairan bening yang keluar dari penis ayah kutelan dengan penuh nafsu. Sambil mengulum penis, kuperhatikan sensasi wajah ayah yang semakin tampan meringis menahan buaianku itu. Ayah mencengkeram rambutku lebih kuat dan lebih cepat menggerakan tangannya memaju mundurkan kepalaku.

"Hsstt ohh.. Nikmaattnyaa saayyhh.. Oghh.. Aahhgg.. Ayhh puass Marr.. Ohh," tubuh ayah kejang dan penisnya menyemburkan sperma kental yang cukup banyak, kutarik wajahku menjauh sehingga puncratan sperma ayah tercecer ke lantai.
"Ohh.. Sayang sini sayang, duduk diatas sini ya,"

Setelah beberapa menit menarik nafas, ayah menyuruhku duduk di kursi bambu itu sementara ia beralih berlutut dilantai dengan posisi menghadap perutku. Ayah mengakat kedua kakiku dan menopangnya kemeja di depan kursi, tubuh ayah seolah kujepit diantara kedua pahaku. Kini gantian ayah yang mengoralku. CD yang kupakai tidak dilepaskan ayah, tanganya mengamit CD bagian bawah dan dibawanya kekanan sehingga bibir vaginaku tersembul lewat celah CD itu, lalu ayah merunduk dan kurasakan sapuan nikmat di permukaan vaginaku.

"Ohh yaahh.. hhsstt," gantian juga, kini aku yang meremasi rambut ayah dan menekan kepala ayah agar lebih terbenam menjilati vaginaku yang membasah. Perlakuan ayah sungguh lelaki, jilatannya membuat aku menggelinjang kenikmatan semakin memuncakkan nafsu birahiku.

"Enghh uhh.. Enak sekali yahh, disitu yahh, oh ya disitu.. Isap yang kuat yah," desahanku semakin menjadi, sesak dadaku menahan rasa ngilu nikmat disekitar vagina dan merambat hiingga boongkahan pantat dan jari-jari kakiku. Aku berusaha bertahan cukup lama, tetapi setelah lima belas menit diperlakukan begitu akhirnya pertahanku jebol.
"Duhh yahh.. Ohh Marr yahh.. Uhh, hsstt.. Enghh enakk.. Ahhsst," saat vaginaku mulai berkedut, kutekan kepala ayah agar lebih membenam di vaginaku, cairan yang keluar dari liang nikmatku disedot ayah, membuat sensasi nikmatnya orgasme bagiku. Saat kedutan itu selesai, aku langsung terkulai dikursi bambu itu, dan ayah bangkit duduk disampingku membelai kepalaku.
"Enak Mar?," ayah membelai pipiku dan menatapku.

"Enghh ayah, iya enak sekali yahh.." aku lalu menyandarkan kepala didada ayah. Kami duduk dengan posisi begitu hampir setengah jam, aku dan ayah terlibat obrolan tentang kenangan indah ayah bersama ibuku, dan juga tentang aku dan suamiku. Kepada ayah kuceritakan betapa irinya aku terhadap hubungan ibu dengan ayah yang jauh lebih indah dibanding dengan aku dan Mas Hamdi, tak terasa aku pun menangis dipelukan ayah.

"Kasihan kamu nak, pasti kamu menderita tak terpenuhi nafkah bathinmu selama ini," ayah membelaiku lagi penuh kasih. Setelah membelaiku, ayah memegang tanganku dan menuntunnya ke arah penisnya. Astaga, penis ayah sudah tegak kembali dengan perkasa.
"Mari Mar.. ayah tuntaskan kenikmatan tadi untukmu," ayah membimbingku lagi untuk berdiri menghadap kursi dan menopang tangan pada sandaran kursi bambu itu.

Aku menurut tuntutan ayah, saat itu aku pun ingin segera menerima penis ayah, aku ingin disetubuhi ayah dari belakang, doggy style. CD ku yang basah dipelorotkan sampai lutut dan dasterku disingkap sehingga bongkahan pantatku terlihat jelas. Ayah memelukku dari belakang, tangannya mengusapi perut buncitku dan meremasi susuku. Ayah juga mengecupi leher belakangku.

"Ouhh yaahh.. Marr nggak tahann yah.." aku mulai tak sabar disenggamai ayah, merasakan penis besarnya merangsek vaginaku.
"Iyahh sayangg.. Nihh ayahh berii.. Ouhh nikmatnyya pepekk inii," ayah menepatkan penisnya dibibir vaginaku dan menekan pinggulnya kedepan, gerakan itu membuat penisnya langsung amblas diliang nikmatku yang sudah banjir saat itu.
"Iya yahh begiituu yahh.. Enakk sekalliihh ohh," aku merintih menahan nikmat dibagian vitalku.

Ayah mulai menggerakkan pantatnya maju mundur, sehingga penis kekarnya menerobos keluar masuk di vaginaku. Senggama doggy style memang nikmat, apalagi baru kali itu aku mengalaminya, setelah beberapa siang lalu gagal lantaran hampir kepergok Henny, adik iparku. Ayah benar-benar memacu birahiku, vaginaku mulai berkedut menginjak menit ke dua puluh kami bersenggama.

"Ahhsstt.. Hhngghh.. Duhh yaahh.. Enhaakkhh ouuhh, iyaa lebih kerass yaahh.. Enaakkhh hngghh," aku kelabakan menerima sodokan ayah, kedutan kecil divaginaku kutahan sebisa mungkin, aku belum mau secepat itu orgasme, aku ingin lebih lama merasakan kenikmatan itu. Kugoyangkan pinggulku berputar mengimbangi gerakan ayah, otot perut kutegangkan sesekali agar ayah merasakan jepitan vaginaku dipenisnya.

"Ohh Marr.. Enakknyaa pepeekkmuu.. Ohh," ayah pun mulai merasakan hal yang sama, celotehnya semakin menjadi sambil tangannya meremasi bongkahan pantatku. Ayah menggenjotku lebih keras, penisnya menumbuki vaginaku sampai menimbulkan keciplakan berpadunya kelamin kami.

Aku tak tahan lagi, otot-otot kakiku mengejang seiring denyutan vagina yang semakin sering muncul. Nafasku dan nafas ayah berpacu melenguh, mendesis, memndesah, dan berteriak kecil.

"Iya yahh.. Kuatin yahh.. Marr sampaii yahh.. Ouhh.. Aahhsstt ighh.. Ammphuunn aahh," kurasakan seluruh ototku mengejang, kenikmatan mengumpul dari kaki, pantat hingga vaginaku yang semakin keras berkedut, aku hampir orgasme.
"OuuhHPp Marr.. Iinnii diaa.. Ohh.. Ohh ayah hampir juga Mar.. Ohh," ayah pun mengerang, tangannya menjambaki rambutku dan tubuhnya semakin cepat menggenjot tubuhku.
"Ouhh.. Ammphunn yahh.. Amphunn.. Aahhsstt.. Ohh.. Ampphunn.." aku sampai berteriak menerima orgasmeku, aku jebol.
"Iya Marr.. Inii.. Ayahh juggaa.. Aahh," ayah masih menggenjotku berkali-kali saat aku sudah puncak.

Tetapi, "braak.." pintu rumah ayah yang lupa kami kunci terbuka lebar. Menyusul suara pintu itu, Mas Hamdi masuk dan berdiri terpaku memandang ke arah kami.

"Ouhh Maarr.. aaghhkk.. Ohh.. Iyaahh.. Ohhggh," sangat tanggung saat itu, meskipun kami tahu kehadiran Mas Hamdi tetapi puncak nikmat yang datang tak mungkin lagi terhindar, ayah meneruskan memompaku sampai ia sendiri kejang dan memeluk tubuhku dari belakang.
"Ohh ammphunn yaahh.." aku sangat kenikmatan saat itu.

Mas Hamdi terpaku memandang kami, tetapi setelah mendengar aku berkata ampun, Mas Hamdi segera menuju ke arah kami dan menarik tubuh ayah.

"Kurang ajar kau orangtua, anakmu sendiri kau perkosa.. Huh"

Sebuah pukulan menyasar kewajah ayah sampai ia terjerembab kelantai. Rupanya Mas Hamdi berpikir kalau barusan tadi aku diperkosa, ia lalu menghampiri ayah yang jatuh dan menendang tubuh tua ayah beberapa kali. Aku tak tahu mesti bagaimana saat itu, selain mengenakan kembali CD-ku dan membenahi pakaianku.

"Kamu nggak apa-apa sayang?," suamiku memelukku setelah ayah tak berdaya.
"Enggak Mas.. Nggakk apa-apa," aku pun memeluknya, sungguh aku takut sekali saat itu.

Takut ketahuan, dan takut ditinggalkan suami. Beberapa menit kemudian suara ribut hardikan Mas Hamdi kepada ayah mengundang masyarakat datang. Ayah kemudian diarak ke rumah Pak Rahmat, Kadus dikampungku. Setelah sehari diamankan di rumah Kadus, Mas Hamdi melaporkan perbuatan ayah kepolisi dan ayah diamankan di kantor polisi sekaligus dijerat sebagai pemerkosa anak kandung. Aku ingin sekali membela ayah, tetapi aku tak mampu.

Kini, sudah lima bulan berlalu. Ayah sudah melalui proses peradilan dan meringkuk di LP sebagai terpidana tiga tahun penjara. Kisah kami tetap kusimpan rapi, dan sebulan sekali aku masih mengunjungi ayah di LP walaupun kulakukan tanpa setahu suamiku.

TAMAT
Read More..

Bibiku mentor sexku





Saat itu aku baru lulus SMA, aku melanjutkan kuliah di Bandung. Di sana aku tinggal di rumah pamanku. Paman dan bibi dengan senang hati menerimaku tinggal di rumah mereka, karena paman dan bibiku yang sudah 4 tahun menikah belum juga punya anak sampai saat itu, jadi kata mereka biar suasana rumahnya tambah ramai dengan kehadiranku.

Pamanku ini adalah adik ibuku paling kecil, saat itu dia baru berumur 35 tahun. Rumah pamanku sangat luas, di sana ada kolam renangnya dan juga ada lapangan tenisnya, maklum pamanku adalah seorang pengusaha sukses yang kaya. Selain bibiku dan pamanku, di rumah itu juga ada 3 orang pembantu, 2 cewek dan seorang bapak tua berusia setengah umur, yang bertugas sebagai tukang kebun.

Bibiku baru berumur 31 tahun, orangnya sangat cantik dengan badannya yang termasuk kecil mungil akan tetapi padat berisi, sangat serasi berbentuknya seperti gitar spanyol, badannya tidak terlalu tinggi kurang lebih 155 cm. Dadanya yang kecil terlihat padat kencang dan agak menantang. Pinggangnya sangat langsing dengan perutnya yang rata, akan tetapi kedua bongkahan pantatnya sangat padat menantang. Wajahnya yang sangat ayu itu, manis benar untuk dipandang. Kulitnya kuning langsat, sangat mulus.

Kedua pembantu cewek tersebut, yang satu adalah janda berumur 27 tahun bernama Trisni dan yang satu lagi lebih muda, baru berumur 18 tahun bernama Erni. Si Erni ini, biarpun masih berumur begitu muda, tapi sudah bersuami dan suaminya tinggal di kampung, bertani katanya.

Suatu hari ketika kuliahku sedang libur dan paman dan bibiku sedang keluar kota, aku bangun agak kesiangan dan sambil masih tidur-tiduran di tempat tidur aku mendengar lagu dari radio.
Tiba-tiba terdengar ketukan pada pintu kamarku, lalu terdengar suara, "Den Eric.., apa sudah bangun..?" terdengar suara Trisni.

"Yaa.. ada apa..?" jawabku.
"Ini Den. Saya bawakan kopi buat Aden..!" katanya lagi.
"Oh.. yaa. Bawa masuk saja..!" jawabku lagi.

Kemudian pintu dibuka, dan terlihat Trisni masuk sambil tangannya membawa nampan yang di atasnya terdapat secangkir kopi panas dan pisang goreng. Ketika dia sedang meletakkan kopi dan pisang goreng di meja di samping tempat tidurku, badannya agak merapat di pinggir tempat tidur dan dalam posisi setengah membungkuk, terlihat dengan jelas bongkahan pantatnya yang montok dengan pinggang yang cukup langsing ditutupi kain yang dipakainya. Melihat pemandangan yang menarik itu dengan cepat rasa isengku bangkit, apalagi ditunjang juga dengan keadaan rumah yang sepi, maka dengan cepat tanganku bergerak ke obyek yang menarik itu dan segera mengelusnya.

Trisni terkejut dan dengan segera menghindar sambil berkata, "Iihh.., ternyata Den Eric jail juga yaa..!"
Melihat wajah Trisni yang masem-masem itu tanpa memperlihatkan ekspresi marah, maka dengan cepat aku bangkit dari tempat tidur dan segera menangkap kedua tangannya.
"Aahh.. jangaann Deenn, nanti terlihat sama si Erni, kan malu atuu..!"
Tapi tanpa memperdulikan protesnya, dengan cepat kutarik badannya ke arahku dan sambil mendekapnya dengan cepat bibirku menyergap bibirnya yang karena terkejut menjadi agak terbuka, sehingga memudahkan lidahku menerobos masuk ke dalam mulutnya.

Dengan segera kusedot bibirnya, dan lidahku kumain-mainkan dalam mulutnya, memelintir lidahnya dan mengelus-elus bagian langit-langit mulutnya. Dengan cepat terdengar suara dengusan keluar dari mulutnya dan kedua matanya membelalak memandangku. Dadanya yang montok itu bergerak naik turun dengan cepat, membuat nafsu birahiku semakin meningkat. Tangan kiriku dengan cepat mulai bergerilya pada bagian dadanya yang menonjol serta merangsang itu, mengelus-elus kedua bukit kembar itu disertai ramasan-ramasan gemas, yang dengan segera membangkitkan nafsu Trisni juga. Hal itu terlihat dari wajahnya yang semakin memerah dan nafasnya yang semakin ngos-ngosan.

Tiba-tiba terdengar suara dari arah dapur dan dengan cepat aku segera melepaskannya, Trisni juga segera membereskan rambut dan bajunya yang agak acak-acakan akibat seranganku tadi.
Sambil menjauh dariku, dia berkata dengan pelan, "Tuhkan.., apa yang Trisni katakan tadi, hampir saja kepergok, Adeen genit siih..!"
Sebelum dia keluar dari kamarku, kubisikan padanya, "Triis, ntar malam kalau semua sudah pada tidur kita teruskan yah..?"
"Entar nanti ajalah..!" katanya dengan melempar seulas senyum manis sambil keluar kamarku.

Malamnya sekitar jam 21.00, setelah semua tidur, Trisni datang ke ruang tengah, dia hanya memakai pakaian tidur yang tipis, sehingga kelihatan CD dan BH-nya.
"Eeh, apa semua sudah tidur..?" tanyaku.
"Sudah Den..!" jawabnya.
Untuk lebih membuat suasana makin panas, aku telah menyiapkan film BF yang kebetulan dapat pinjam dari teman. Lalu aku mulai menyetel film itu dan ternyata pemainnya antara seorang pria Negro dan wanita Asia.

Terlihat adegan demi adegan melintas pada layar TV, makin lama makin 'hot' saja, akhirnya sampai pada adegan dimana keduanya telah telanjang bulat. Si pria Negro dengan tubuhnya tinggi besar, hitam mengkilat apalagi penisnya yang telah tegang itu, benar-benar dasyat, panjang, besar, hitam mengkilat kecoklat-coklatan, sedangkan ceweknya yang kelihatan orang Jepang atau orang Cina, dengan badannya kecil mungil tapi padat, kulitnya putih bersih benar-benar sangat kontras dengan pria Negro tersebut.

Dengan sigap si Negro terlihat mengangkat cewek tersebut dan menekan ke tembok. Terlihat dari samping penisnya yang panjang hitam itu ditempatkan pada belahan bibir kemaluan cewe yang putih kemerah-merahan. Secara perlahan-lahan mulai ditekan masuk, dari mulut cewe tersebut terdengar keluhan panjang dan kedua kakinya menggelepar-gelepar, serta kedua bolah matanya terputar-putar sehingga lebih banyak kelihatan putihnya. Sementara penis hitam si Negro terlihat makin terbenam ke dalam kemaluan cewenya, benar-benar suatu adegan yang sangat merangsang. Selang sejenak terlihat pantat si Negro mulai memompa, makin lama makin cepat, sementara cewe itu menggeliat-geliat sambil setengah menjerit-jerit.

"Aduuh.., Den. Kasian tu cewe, Negronya kok sadis benar yaah..? Iihh.., ngilu rasanya melihat barang segede itu..!" guman Trisni setengah berbisik sambil kedua bahunya agak menggigil, sedangkan wajahnya tampak mulai memerah dan nafasnya agak tersengal-sengal.
"Wah.., Tris kan yang gede itu enak rasanya. Coba bayangkan kalau barangnya si Negro itu mengaduk-aduk itunya Trisni. Bagaimana rasanya..?" sahutku.
"Iih.., Aden jorok aahh..!" sahut Trisni disertai bahunya yang menggigil, tapi matanya tetap terpaku pada adegan demi adegan yang makin seru saja yang sedang berlangsung di layar TV.

Melihat keadaan Trisni itu, dengan diam-diam aku meluncurkan celana pendek yang kukenakan sekalian dengan CD, sehingga senjataku yang memang sudah sangat tegang itu meloncat sambil mengangguk-anguk dengan bebas. Melihat penisku yang tidak kalah besarnya dengan si Negro itu terpampang di hadapannya, kedua tangannya secara refleks menutup mulutnya, dan terdengar jeritan tertahan dari mulutnya.

Kemudian penisku itu kudekatkan ke wajahnya, karena memang posisi kami pada waktu itu adalah aku duduk di atas sofa, sedangkan Trisni duduk melonjor di lantai sambil bersandar pada sofa tempat kududuk, sehingga posisi barangku itu sejajar dengan kepalanya. Segera kupegang kepala Trisni dan kutarik mendekat ke arahku, sehingga badan Trisni agak merangkak di antara kedua kakiku. Kepalanya kutarik mendekat pada kemaluanku, dan aku berusaha memasukkan penisku ke mulutnya. Akan tetapi dia hanya mau menciuminya saja, lidahnya bermain-main di kepala dan di sekitar batang penisku. Lalu dia mulai menjilati kedua buah pelirku, waahh.., geli banget rasanya.

Akhirnya kelihatan dia mulai meningkatkan permainannya dan dia mulai menghisap penisku pelan-pelan. Ketika sedang asyik-asyiknya aku merasakan hisapan Trisni itu, tiba-tiba si Erni pembantu yang satunya masuk ke ruang tengah, dan dia terkejut ketika melihat adegan kami. Kami berdua juga sangat kaget, sehingga aktivitas kami jadi terhenti dengan mendadak.

"Ehh.., Erni kamu jangan lapor ke Paman atau Bibi ya..! Awas kalau lapor..!" ancamku.
"Ii.. ii.. iyaa.. Deen..!" jawabnya terbata-bata sambil matanya setengah terbelalak melihat kemaluanku yang besar itu tidak tertutup dan masih tegak berdiri.
"Kamu duduk di sini aja sambil nonton film itu..!" sahutkku.
Dengan diam-diam dia segera duduk di lantai sambil matanya tertuju ke layar TV.

Aku kemudian melanjutkan aktivitasku terhadap Trisni, dengan melucuti semua baju Trisni. Trisni terlihat agak kikuk juga terhadap Erni, akan tetapi melihat Erni yang sedang asyik menonton adegan yang berlasung di layar TV itu, akhirnya diam saja membiarkanku melanjutkan aktivitasku itu.

Setelah bajunya kulepaskan sampai dia telanjang bulat, kutarik badannya ke arahku, lalu dia kurebahkan di sofa panjang. Kedua kakinya tetap terjulur ke lantai, hanya bagian pantatnya ke atas yang tergeletak di sofa. Sambil membuka bajuku, kedua kakinya segera kukangkangi dan aku berlutut di antara kedua pahanya. Kedua tanganku kuletakkan di atas pinggulnya dan jari-jari jempolku menekan pada bibir kemaluannya, sehingga kedua bibir kemaluannya agak terbuka dan aku mulai menjilati permukaan kemaluannya, ternyata kemaluannya sudah sangat basah.
"Deen.., oh Deen..! Uuenaak..!" rintihnya tanpa sadar.

Sambil terus menjilati kemaluannya Trisni, aku melirik si Erni, tapi dia pura-pura tidak melihat apa yang kami lakukan, akan tetapi dadanya terlihat naik turun dan wajahnya terlihat memerah. Tidak berselang lama kemudian badannya Trisni bergetar dengan hebat dan pantatnya terangkat ke atas dan dari mulutnya terdengar desahan panjang. Rupanya dia telah mengalami orgasme. Setelah itu badannya terkulai lemas di atas sofa, dengan kedua kakinya tetap terjulur ke lantai, matanya terpejam dan dari wajahnya terpancar suatu kepuasan, pada dahinya terlihat bitik-bintik keringat.

Aku lalu berjongkok di antara kedua pahanya yang masih terkangkang itu dan kedua jari jempol dan telunjuk tangan kiriku kuletakkan pada bibir kemaluannya dan kutekan supaya agak membuka, sedang tangan kananku kupegang batang penisku yang telah sangat tegang itu yang berukuran 19 cm, sambil kugesek-gesek kepala penisku ke bibir vagina Trisni. Akhirnya kutempatkan kepala penisku pada bibir kemaluan Trisni, yang telah terbuka oleh kedua jari tangan kiriku dan kutekan penisku pelan-pelan. Bles..! mulai kepalanya menghilang pelan-pelan ke dalam vagina Trisni diikuti patang penisku, centi demi centi menerobos ke dalam liang vaginanya.

Sampai akhirnya amblas semua batang penisku, sementara Trisni mengerang-erang keenakan.
"Aduhh.. eennaak.., ennkk Deen. Eenak..!"
Aku menggerakan pinggulku maju mundur pelan-pelan, sehingga penisku keluar masuk ke dalam vagina Trisni. Terasa masih sempit liang vagina Trisni, kepala dan batang penisku serasa dijepit dan diurut-urut di dalamnya. Amat nikmat rasanya penisku menerobos sesuatu yang kenyal, licin dan sempit. Rangsangan itu sampai terasa pada seluruh badanku sampai ke ujung rambutku.

Aku melirik ke arah Erni, yang sekarang secara terang-terangan telah memandang langsung ke arah kami dan melihat apa yang sedang kami lakukan itu.
"Sini..! Daripada bengong aja mendingan kamu ikut.., ayo sini..!" kataku pada Erni.
Lalu dengan masih malu-malu Erni menghampiri kami berdua. Aku ganti posisi, Trisni kusuruh menungging, telungkup di sofa. Sekarang dia berlutut di lantai, dimana perutnya terletak di sofa. Aku berlutut di belakangnya dan kedua pahanya kutarik melebar dan kumasukkan penisku dari belakang menerobos ke dalam vaginanya. Kugarap dia dari belakang sambil kedua tanganku bergerilya di tubuh Erni.

Kuelus-elus dadanya yang masih terbungkus dengan baju, kuusap-usap perutnya. Ketika tanganku sampai di celana dalamnya, ternyata bagian bawah CD-nya sudah basah, aku mencium mulutnya lalu kusuruh dia meloloskan blouse dan BH-nya. Setelah itu aku menghisap putingnya berganti-ganti, dia kelihatan sudah sangat terangsang. Kusuruh dia melepaskan semua sisa pakaiannya, sementara pada saat bersamaan aku merasakan penisku yang berada di dalam vagina Trisni tersiram oleh cairan hangat dan badan Trisni terlonjak-lonjak, sedangkan pantatnya bergetar. Oohh.., rupanya Trisni mengalami orgasme lagi pikirku. Setelah badannya bergetar dengan hebat, Trisni pun terkulai lemas sambil telungkup di sofa.

Lalu kucabut penisku dan kumasukkan pelan-pelan ke vagina si Erni yang telah kusuruh tidur telentang di lantai. Ternyata kemaluan Erni lebih enak dan terasa lubangnya lebih sempit dibandingkan dengan kemaluan Trisni. Mungkin karena Erni masih lebih muda dan jarang ketemu dengan suaminya pikirku.

Setelah masuk semua aku baru merasakan bahwa vagina si Erni itu dapat mengempot-empot, penisku seperti diremas-remas dan dihisap-hisap rasanya.
"Uh enak banget memekmu Err. Kamu apain itu memekmu heh..?" kataku dan si Erni hanya senyum-senyum saja, lalu kupompa dengan lebih semangat.
"Den.., ayoo lebih cepat..! Deen.. lebih cepat. Iiih..!" dan kelihatan bahwa si Erni pun akan mencapai klimaks.
"Iihh.. iihh.. iihh.. hmm.. oohh.. Denn.. enaakk Deen..!" rintihnya terputus-putus sambil badannya mengejang-ngejang.

Aku mendiamkan gerakan penisku di dalam lubang vagina Erni sambil merasakan ramasan dan empotan vagina Erni yang lain dari pada lain itu. Kemudian kucabut penisku dari kemaluan Erni, Trisni langsung mendekat dan dikocoknya penisku dengan tangannya sambil dihisap ujungnya. Kemudian gantian Erni yang melakukannya. Kedua cewek tersebut jongkok di depanku dan bergantian menghisap-hisap dan mengocok-ngocok penisku.

Tidak lama kemudian aku merasakan penisku mulai berdenyut-denyut dengan keras dan badanku mulai bergetar dengan hebat. Sesuatu dari dalam penisku serasa akan menerobos keluar, air maniku sudah mendesak keluar.
"Akuu ngak tahan niihh.., mauu.. keluaar..!" mulutku mengguman, sementara tangan Erni terus mengocok dengan cepat batang penisku.
Dan beberapa detik kemudian, "Crot.. croot.. croot.. crot..!" air maniku memancar dengan kencang yang segera ditampung oleh mulut Erni dan Trisni.
Empat kali semprotan yang kurasakan, dan kelihatannya dibagi rata oleh Erni dan Trisni. Aku pun terkulai lemas sambil telentang di atas sofa.

Selama sebulan lebih aku bergantian mengerjai keduanya, kadang-kadang barengan juga.
Pada suatu hari paman memanggilku, "Ric Paman mau ke Singapore ada keperluan kurang lebih dua minggu, kamu jaga rumah yaa..! Nemenin Bibi kamu ya..!" kata pamanku.
"Iya deeh. Aku nggak akan dolan-dolan..!" jawabku.
Dalam hatiku, "Kesempatan datang niihh..!"
Bibi tersenyum manis padaku, kelihatan senyumnya itu sangat polos.
"Hhmm.., tak tau dia bahaya sedang mengincarnya.." gumanku dalam hati.
Niatku ingin merasakan tubuh bibi sebentar lagi pasti akan kesampaian.
"Sekarang nih pasti akan dapat kunikmati tubuh Bibi yang bahenol..!" pikirku dalam hati.

Setelah keberangkatan paman, malam harinya selesai makan malam dengan bibi, aku nonton Seputar Indonesia di ruang tengah.
Bibi menghampiriku sambil berkata, "Ric, badan Bibi agak cape hari ini, Bibi mau tidur duluan yaa..!" sambil berjalan masuk ke kamarnya.
Tadinya aku mau melampiaskan niat malam ini, tapi karena badan bibi kelihatan agak tidak fit, maka kubatalkan niatku itu. Kasihan juga ngerjain bibi dalam keadaan kurang fit dan lagian rasanya kurang seru kalau nanti belum apa-apa bibi sudah lemas. Tapi dalam hatiku aku bertekad untuk dapat menaklukkan bibi pada malam berikutnya.

Malam itu memang tidak terjadi apa-apa, tapi aku menyusun rencana untuk dapat menaklukkan bibi. Pada malam berikutnya, setelah selesai makan malam bibi langsung masuk ke dalam kamarnya. Selang sejenak dengan diam-diam aku menyusulnya. Pelan-pelan kubuka pintu kamarnya yang kebetulan tidak dikunci. Sambil mengintip ke dalam, di dalam kamar tidak terlihat adanya bibi, tapi dari dalam kamar mandi terdengar suara air disiram. Rupanya bibi berada di dalam kamar mandi, aku pun dengan berjingkat-jingkat langsung masuk ke kamar bibi. Aku kemudian bersembunyi di bawah kolong tempat tidurnya.

Selang sesaat, bibi keluar dari kamar mandi. Setelah mengunci pintu kamarnya, bibi mematikan lampu besar, sehingga ruang kamarnya sekarang hanya diterangi oleh lampu tidur yang terdapat di meja, di sisi tempat tidurnya. Kemudian bibi naik ke tempat tidur. Tidak lama kemudian terdengar suara napasnya yang berbunyi halus teratur menandakan bibi telah tertidur. Aku segera keluar dari bawah tempat tidurnya dengan hati-hati, takut menimbulkan suara yang akan menyebabkan bibi terbangun.

Kulihat bibi tidur tidak berselimut, karena biarpun kamar bibi memakai AC, tapi kelihatan AC-nya diatur agar tidak terlalu dingin. Posisi tidur bibi telentang dan bibi hanya memakai baju daster merah muda yang tipis. Dasternya sudah terangkat sampai di atas perut, sehingga terlihat CD mini yang dikenakannya berwarna putih tipis, sehingga terlihat belahan kemaluan bibi yang ditutupi oleh rambut hitam halus kecoklat-coklatan. Buah dada bibi yang tidak terlalu besar tapi padat itu terlihat samar-samar di balik dasternya yang tipis, naik turun dengan teratur.

Walaupun dalam posisi telentang, tapi buah dada bibi terlihat mencuat ke atas dengan putingnya yang coklat muda kecil. Melihat pemandangan yang menggairahkan itu aku benar-benar terangsang hebat. Dengan cepat kemaluanku langsung bereaksi menjadi keras dan berdiri dengan gagahnya, siap tempur. Perlahan-lahan kuberjongkok di samping tempat tidur dan tanganku secara hati-hati kuletakkan dengan lembut pada belahan kemaluan bibi yang mungil itu yang masih ditutupi dengan CD. Perlahan-lahan tanganku mulai mengelus-elus kemaluan bibi dan juga bagian paha atasnya yang benar-benar licin putih mulus dan sangat merangsang.

Terlihat bibi agak bergeliat dan mulutnya agak tersenyum, mungkin bibi sedang mimpi, sedang becinta dengan paman. Aku melakukan kegiatanku dengan hati-hati takut bibi terbangun. Perlahan-lahan kulihat bagian CD bibi yang menutupi kemaluannya mulai terlihat basah, rupanya bibi sudah mulai terangsang juga. Dari mulutnya terdengar suara mendesis perlahan dan badannya menggeliat-geliat perlahan-lahan. Aku makin tersangsang melihat pemandangan itu.

Cepat-cepat kubuka semua baju dan CD-ku, sehingga sekarang aku bertelanjang bulat. Penisku yang 19 cm itu telah berdiri kencang menganguk-angguk mencari mangsa. Dan aku membelai-belai buah dadanya, dia masih tetap tertidur saja. Aku tahu bahwa puting dan klitoris bibiku tempat paling suka dicumbui, aku tahu hal tersebut dari film-film bibiku. Lalu tanganku yang satu mulai gerilya di daerah vaginanya. Kemudian perlahan-lahan aku menggunting CD mini bibi dengan gunting yang terdapat di sisi tempat tidur bibi.

Sekarang kemaluan bibi terpampang dengan jelas tanpa ada penutup lagi. Perlahan-lahan kedua kaki bibi kutarik melebar, sehingga kedua pahanya terpentang. Dengan hati-hati aku naik ke atas tempat tidur dan bercongkok di atas bibi. Kedua lututku melebar di samping pinggul bibi dan kuatur sedemikian rupa supaya tidak menyentuh pinggul bibi. Tangan kananku menekan pada kasur tempat tidur, tepat di samping tangan bibi, sehingga sekarang aku berada dalam posisi setengah merangkak di atas bibi.

Tangan kiriku memegang batang penisku. Perlahan-lahan kepala penisku kuletakkan pada belahan bibir kemaluan bibi yang telah basah itu. Kepala penisku yang besar itu kugosok-gosok dengan hati-hati pada bibir kemaluan bibi. Terdengar suara erangan perlahan dari mulut bibi dan badannya agak mengeliat, tapi matanya tetap tertutup. Akhirnya kutekan perlahan-lahan kepala kemaluanku membelah bibir kemaluan bibi.

Sekarang kepala kemaluanku terjepit di antara bibir kemaluan bibi. Dari mulut bibi tetap terdengar suara mendesis perlahan, akan tetapi badannya kelihatan mulai gelisah. Aku tidak mau mengambil resiko, sebelum bibi sadar, aku sudah harus menaklukan kemaluan bibi dengan menempatkan posisi penisku di dalam lubang vagina bibi. Sebab itu segera kupastikan letak penisku agar tegak lurus pada kemaluan bibi. Dengan bantuan tangan kiriku yang terus membimbing penisku, kutekan perlahan-lahan tapi pasti pinggulku ke bawah, sehingga kepala penisku mulai menerobos ke dalam lubang kemaluan bibi.

Kelihatan sejenak kedua paha bibi bergerak melebar, seakan-akan menampung desakan penisku ke dalam lubang kemaluanku. Badannya tiba-tiba bergetar menggeliat dan kedua matanya mendadak terbuka, terbelalak bingung, memandangku yang sedang bertumpu di atasnya. Mulutnya terbuka seakan-akan siap untuk berteriak. Dengan cepat tangan kiriku yang sedang memegang penisku kulepaskan dan buru-buru kudekap mulut bibi agar jangan berteriak. Karena gerakanku yang tiba-tiba itu, posisi berat badanku tidak dapat kujaga lagi, akibatnya seluruh berat pantatku langsung menekan ke bawah, sehingga tidak dapat dicegah lagi penisku menerobos masuk ke dalam lubang kemaluan bibi dengan cepat.

Badan bibi tersentak ke atas dan kedua pahanya mencoba untuk dirapatkan, sedangkan kedua tangannya otomatis mendorong ke atas, menolak dadaku. Dari mulutnya keluar suara jeritan, tapi tertahan oleh bekapan tangan kiriku.
"Aauuhhmm.. aauuhhmm.. hhmm..!" desahnya tidak jelas.
Kemudian badannya mengeliat-geliat dengan hebat, kelihatan bibi sangat kaget dan mungkin juga kesakitan akibat penisku yang besar menerobos masuk ke dalam kemaluannya dengan tiba-tiba.

Meskipun bibi merontak-rontak, akan tetapi bagian pinggulnya tidak dapat bergeser karena tertekan oleh pinggulku dengan rapat. Karena gerakan-gerakan bibi dengan kedua kaki bibi yang meronta-ronta itu, penisku yang telah terbenam di dalam vagina bibi terasa dipelintir-pelintir dan seakan-akan dipijit-pijit oleh otot-otot dalam vagina bibi. Hal ini menimbulkan kenikmatan yang sukar dilukiskan.

Karena sudah kepalang tanggung, maka tangan kananku yang tadinya bertumpu pada tempat tidur kulepaskan. Sekarang seluruh badanku menekan dengan rapat ke atas badan bibi, kepalaku kuletakkan di samping kepala bibi sambil berbisik kekuping bibi.
"Bii.., bii.., ini aku Eric. Tenang bii.., sshheett.., shhett..!" bisikku.
Bibi masih mencoba melepaskan diri, tapi tidak kuasa karena badannya yang mungil itu teperangkap di bawah tubuhku. Sambil tetap mendekap mulut bibi, aku menjilat-jilat kuping bibi dan pinggulku secara perlahan-lahan mulai kugerakkan naik turun dengan teratur.

Perlahan-lahan badan bibi yang tadinya tegang mulai melemah.
Kubisikan lagi ke kuping bibi, "Bii.., tanganku akan kulepaskan dari mulut bibi, asal bibi janji jangan berteriak yaa..?"
Perlahan-lahan tanganku kulepaskan dari mulut bibi.
Kemudian Bibi berkata, "Riic.., apa yang kau perbuat ini..? Kamu telah memperkosa Bibi..!"
Aku diam saja, tidak menjawab apa-apa, hanya gerakan pinggulku makin kupercepat dan tanganku mulai memijit-mijit buah dada bibi, terutama pada bagian putingnya yang sudah sangat mengeras.

Rupanya meskipun wajah bibi masih menunjukkan perasaan marah, akan tetapi reaksi badannya tidak dapat menyembunyikan perasaannya yang sudah mulai terangsang itu. Melihat keadaan bibi ini, tempo permainanku kutingkatkan lagi.
Akhirnya dari mulut bibi terdengar suara, "Oohh.., oohh.., sshh.., sshh.., eemm.., eemm.., Riicc.., Riicc..!"
Dengan masih melanjutkan gerakan pinggulku, perlahan-lahan kedua tanganku bertumpu pada tempat tidur, sehingga aku sekarang dalam posisi setengah bangun, seperti orang yang sedang melakukan push-up.

Dalam posisi ini, penisku menghujam kemaluan bibi dengan bebas, melakukan serangan-serangan langsung ke dalam lubang kemaluan bibi. Kepalaku tepat berada di atas kepala bibi yang tergolek di atas kasur. Kedua mataku menatap ke bawah ke dalam mata bibi yang sedang meram melek dengan sayu. Dari mulutnya tetap terdengar suara mendesis-desis. Selang sejenak setelah merasa pasti bahwa bibi telah dapat kutaklukan, aku berhenti dengan kegiatanku. Setelah mencabut penisku dari dalam kemaluan bibi, aku berbaring setengah tidur di samping bibi. Sebelah tanganku mengelus-elus buah dada bibi terutama pada bagian putingnya.

"Eehh.., Ric.., kenapa kau lakukan ini kepada bibimu..!" katanya.
Sebelum menjawab aku menarik badan bibi menghadapku dan memeluk badan mungilnya dengan hati-hati, tapi lengket ketat ke badan. Bibirku mencari bibinya, dan dengan gemas kulumat habis. Woowww..! Sekarang bibi menyambut ciumanku dan lidahnya ikut aktif menyambut lidahku yang menari-nari di mulutnya.

Selang sejenak kuhentikan ciumanku itu.
Sambil memandang langsung ke dalam kedua matanya dengan mesra, aku berkata, "Bii.. sebenarnya aku sangat sayang sekali sama Bibi, Bibi sangat cantik lagi ayu..!"
Sambil berkata itu kucium lagi bibirnya selintas dan melanjutkan perkataanku, "Setiaap kali melihat Bibi bermesrahan dengan Paman, aku kok merasa sangat cemburu, seakan-akan Bibi adalah milikku, jadi Bibi jangan marah yaa kepadaku, ini kulakukan karena tidak bisa menahan diri ingin memiliki Bibi seutuhnya."
Selesai berkata itu aku menciumnya dengan mesra dan dengan tidak tergesa-gesa.

Ciumanku kali ini sangat panjang, seakan-akan ingin menghirup napasnya dan belahan jiwanya masuk ke dalam diriku. Ini kulakukan dengan perasaan cinta kasih yang setulus-tulusnya. Rupanya bibi dapat juga merasakan perasaan sayangku padanya, sehingga pelukan dan ciumanku itu dibalasnya dengan tidak kalah mesra juga.

Beberapa lama kemudian aku menghentikan ciumanku dan aku pun berbaring telentang di samping bibi, sehingga bibi dapat melihat keseluruhan badanku yang telanjang itu.
"Iih.., gede banget barang kamu Ricc..! Itu sebabnya tadi Bibi merasa sangat penuh dalam badan Bibi." katanya, mungkin punyaku lebih besar dari punya paman.
Lalu aku mulai memeluknya kembali dan mulai menciumnya. Ciumanku mulai dari mulutnya turun ke leher dan terus kedua buah dadanya yang tidak terlalu besar tapi padat itu. Pada bagian ini mulutku melumat-lumat dan menghisap-hisap kedua buah dadanya, terutama pada kedua ujung putingnya berganti-ganti, kiri dan kanan.

Sementara aksiku sedang berlangsung, badan bibi menggeliat-geliat kenikmatan. Dari mulutnya terdengar suara mendesis-desis tidak hentinya. Aksiku kuteruskan ke bawah, turun ke perutnya yang ramping, datar dan mulus. Maklum, bibi belum pernah melahirkan. Bermain-main sebentar disini kemudian turun makin ke bawah, menuju sasaran utama yang terletak pada lembah di antara kedua paha yang putih mulus itu.

Pada bagian kemaluan bibi, mulutku dengan cepat menempel ketat pada kedua bibir kemaluannya dan lidahku bermain-main ke dalam lubang vaginanya. Mencari-cari dan akhirnya menyapu serta menjilat gundukan daging kecil pada bagian atas lubang kemaluannya. Segera terasa badan bibi bergetar dengan hebat dan kedua tangannya mencengkeram kepadaku, menekan ke bawah disertai kedua pahanya yang menegang dengan kuat.
Keluhan panjang keluar dari mulutnya, "Oohh.., Riic.., oohh.. eunaakk.. Riic..!"

Sambil masih terus dengan kegiatanku itu, perlahan-lahan kutempatkan posisi badan sehingga bagian pinggulku berada sejajar dengan kepala bibi dan dengan setengah berjongkok. Posisi batang kemaluanku persis berada di depan kepala bibi. Rupanya bibi maklum akan keinginanku itu, karena terasa batang kemaluanku dipegang oleh tangan bibi dan ditarik ke bawah. Kini terasa kepala penis menerobos masuk di antara daging empuk yang hangat. Ketika ujung lidah bibi mulai bermain-main di seputar kepala penisku, suatu perasaan nikmat tiba-tiba menjalar dari bawah terus naik ke seluru badanku, sehingga dengan tidak terasa keluar erangan kenikmatan dari mulutku.

Dengan posisi 69 ini kami terus bercumbu, saling hisap-mengisap, jilat-menjilat seakan-akan berlomba-lomba ingin memberikan kepuasan pada satu sama lain. Beberapa saat kemudian aku menghentikan kegiatanku dan berbaring telentang di samping bibi. Kemudian sambil telentang aku menarik bibi ke atasku, sehingga sekarang bibi tidur tertelungkup di atasku. Badan bibi dengan pelan kudorong agak ke bawah dan kedua paha bibi kupentangkan. Kedua lututku dan pantatku agak kunaikkan ke atas, sehingga dengan terasa penisku yang panjang dan masih sangat tegang itu langsung terjepit di antara kedua bibir kemaluan bibi.

Dengan suatu tekanan oleh tanganku pada pantat bibi dan sentakan ke atas pantatku, maka penisku langsung menerobos masuk ke dalam lubang kemaluan bibi. Amblas semua batangku.
"Aahh..!" terdengar keluhan panjang kenikmatan keluar dari mulut bibi.
Aku segera menggoyang pinggulku dengan cepat karena kelihatan bahwa bibi sudah mau klimaks. Bibi tambah semangat juga ikut mengimbangi dengan menggoyang pantatnya dan menggeliat-geliat di atasku. Kulihat wajahnya yang cantik, matanya setengah terpejam dan rambutnya yang panjang tergerai, sedang kedua buah dadanya yang kecil padat itu bergoyang-goyang di atasku.

Ketika kulihat pada cermin besar di lemari, kelihatan pinggul bibi yang sedang berayun-ayun di atasku. Batang penisku yang besar sebentar terlihat sebentar hilang ketika bibi bergerak naik turun di atasku. Hal ini membuatku jadi makin terangsang. Tiba-tiba sesuatu mendesak dari dalam penisku mencari jalan keluar, hal ini menimbulkan suatu perasaan nikmat pada seluruh badanku. Kemudian air maniku tanpa dapat ditahan menyemprot dengan keras ke dalam lubang vagina bibi, yang pada saat bersamaan pula terasa berdenyut-denyut dengan kencangnya disertai badannya yang berada di atasku bergetar dengan hebat dan terlonjak-lonjak. Kedua tangannya mendekap badanku dengan keras.

Pada saat bersamaan kami berdua mengalami orgasme dengan dasyat. Akhirnya bibi tertelungkup di atas badanku dengan lemas sambil dari mulut bibi terlihat senyuman puas.
"Riic.., terima kasih Ric. Kau telah memberikan Bibi kepuasan sejati..!"

Setelah beristirahat, kemudian kami bersama-sama ke kamar mandi dan saling membersihkan diri satu sama lain. Sementara mandi, kami berpelukan dan berciuman disertai kedua tangan kami yang saling mengelus-elus dan memijit-mijit satu sama lain, sehingga dengan cepat nafsu kami terbangkit lagi. Dengan setengah membopong badan bibi yang mungil itu dan kedua tangan bibi menggelantung pada leherku, kedua kaki bibi kuangkat ke atas melingkar pada pinggangku dan dengan menempatkan satu tangan pada pantat bibi dan menekan, penisku yang sudah tegang lagi menerobos ke dalam lubang kemaluan bibi.

"Aaughh.. oohh.. oohh..!" terdengar rintihan bibi sementara aku menggerakan-gerakan pantatku maju-mundur sambil menekan ke atas.
Dalam posisi ini, dimana berat badan bibi sepenuhnya tertumpu pada kemaluannya yang sedang terganjel oleh penisku, maka dengan cepat bibi mencapai klimaks.
"Aaduhh.. Riic.. Biibii.. maa.. maa.. uu.. keluuar.. Riic..!" dengan keluhan panjang disertai badannya yang mengejang, bibi mencapai orgasme, dan selang sejenak terkulai lemas dalam gendonganku.

Dengan penisku masih berada di dalam lubang kemaluan bibi, aku terus membopongnya. Aku membawa bibi ke tempat tidur. Dalam keadaan tubuh yang masih basah kugenjot bibi yang telah lemas dengan sangat bernafsu, sampai aku orgasme sambil menekan kuat-kuat pantatku. Kupeluk badan bibi erat-erat sambil merasakan airmaniku menyemprot-nyemprot, tumpah dengan deras ke dalam lubang kemaluan bibi, mengisi segenap relung-relung di dalamnya.

Semalaman itu kami masih melakukan persetubuhan beberapa kali, dan baru berhenti kecapaian menjelang fajar. Sejak saat itu, selanjutnya seminggu minimum 4 kali kami secara sembunyi-sembunyi bersetubuh, diselang seling mengerjai si Trisni dan Erni apabila ada waktu luang. Hal ini berlangsung terus tanpa paman mengetahuinya sampai saya lulus serjana dan harus pindah ke Jakarta, karena diterima kerja di suatu perusahaan asing.

TAMAT
Read More..